WARTA 24 JAWA BARAT

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Mengintip Ritual Sakral Nyiram Gong Sekati di Cirebon

Posted by On 22.01

Mengintip Ritual Sakral Nyiram Gong Sekati di Cirebon

Senin 27 November 2017, 12:48 WIB Mengintip Ritual Sakral Nyiram Gong Sekati di Cirebon Sudirman Wamad - detikNews Mengintip Ritual Sakral Nyiram Gong Sekati di CirebonRitual saklral menyiram Gong Sekati di Cirebon. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom) Cirebon - Puluhan abdi dalam Keraton Kanoman Cirebon berjalan iring-iringan. Di barisan paling depan, salah seorang abdi dalam membawa kemenyan yang aromanya menusuk hidung.
Tepat di belakangnya, tiga orang membawa gong yang usianya ratusan tahun. Lalau disusul dengan barisan abdi dalam yang membawa perlengkapan alat musik gamelan. Puluhan abdi dalam itu mulai berjalan dari Bangsal Ukiran menuju Langgar Keraton Kanoman Cirebon.
Empat gong itu bernama Gong Sekati. Ratusan masyarakat menyaksikan ritual sakral tersebut. Satu persatu Gong Sekati diguyur air kembang.
Usai dimandikan, Gong Sekati dan sejumlah alat musik gamelan, seperti bonang dan lainnya, digosok dengan abu dari batu bata dan serabut kelapa. Pangeran Kumisi Keraton Kanoman Muhammad Rokhim mengatakan tradisi bertajuk Nyiram Gong Sekati merupakan ritual tahunan yang dilakukan keraton setiap tanggal 7 Mulud dalam kalender Jawa.
Tradisi Nyiram Gong Sekati merupakan rangkaian dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. "Gamelan Sekati ini peninggalan Sang Hyang Bango yang untuk Pangeran Cakrabuana. Kemudian diteruskan oleh Wali Songo. Di Cirebon, Sunan Gunung Jati itu megangnya gong. Ya Gong Sekati ini," kata Rokhim saat ditemui detikcom di Keraton Kanoman, Cirebon, Jawa Barat, Senin (27/11/2017).

Mengintip Ritual Sakral Siram Gong Sekati di CirebonGong Sekati yang dikeramatkan ini digosok dengan abu dari batu bata dan serabut kelapa usai dimandikan. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Rokhim mengatakan Gong Sekati digunakan para wali untuk menyebarkan agama Islam. Keraton Kanoman sengaja memilih tanggal 7 bulan Mulud sebagai waktu untuk memandikan gong. Karena disesuaikan dengan kelahiran Nabi Muhammad.
"Orang mengandung kan setiap bulan ketujuh dimandikan atau disiram, kita hitungannya seperti itu. Pas tanggal delapan, nanti sore itu sudah masuk tanggal delapan. Kita akan bunyikan gamelannya di Siti Tinggil. Kita juga marhabanan di Langgar," ujar Rokhim.
Gong Sekati diakui Rokhim memiliki usia ratusan tahun. Secara keseluruhan, ia menjelaskan, gamelan tersebut peninggalan Kerajaan Mataram.
"Di Keraton Kanoman hanya gong saja. Pemainnya itu orang-orang pilihan, biasa nya jodoh-jodohan atau cocok-cocokan. Turun temurun, saya sempat belajar tapi tidak bisa-bisa. Latihannya itu dimulai sejak tanggal satu hingga enam Mulud," tutur Rokhim.
(bbn/bbn)Sumber: Google News | Warta 24 Cirebon

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »